Pentingnya Ilmu Tarekat
Pentingnya ilmu Tarekat sebagai metodologi pelaksanaan
teknis dari syariat, aturan-aturan baku yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Sejak kecil kita semua sudah mengetahui bagaimana cara shalat, jumlah raka’at
dan bacaan yang wajib serta sunnat dibaca, dari sejak kecil sampai dewasa kita
telah mahir melaksanakannya, lalu dimana bedanya?
Kalau pertanyaan ini tidak bisa dijawab, berarti
shalat yang kita laksanakan ketika umur 10 tahun sama dengan shalat yang kita
laksanakan ketika dewasa atau saat ini tidak ada perbedaan sama sekali. Lalu
seberapa yakin kita bahwa shalat yang telah dilaksanakan bertahun-tahun
diterima oleh Allah SWT? Seberapa yakin bahwa shalat yang kita kerjakan itu
telah sesuai dengan apa yang dilaksanakan Nabi secara zahir bathin?
Pertanyaan ini perlu direnungi dan dijadikan semangat
untuk terus mencari cara agar ibadah bisa di upgrade ke level lebih tinggi
sehingga apapun ibadah yang kita lakukan akan memiliki makna yang dalam.
Tarekat sebagai ilmu untuk melaksanakan semua aturan
Agama akan bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di atas. Menekuni Tarekat
pada tahap awal dimulai dengan Tobat, menyesali kesalahan dan kekeliruan kita,
menyesali akan kelalaian kita dalam mengingat-Nya. Dengan tobat maka rohani
manusia akan menjadi suci seperti orang baru dilahirkan kembali. Jiwa manusia
atas bimbingan Guru Mursyid akan terasa seperti kain putih, dan ketika kita
melihat kain putih akan membuat diri sadar bahwa kita telah mengalami mati dan
kemudian hidup kembali dengan kehidupan yang baru.
Jiwa yang telah mati dan dihidupkan kembali itulah
kemudian memulai ibadah dengan kehidupan baru sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Nabi berpesan, “Matikanlah dirimu sebelum engkau mati”, hadist ini hanya bisa
dilaksanakan ketika orang mulai menekuni Tarekat. Mati dalam pengertian syariat
nafas berhenti sedangkan mati dalam makna hakikat adalah mematikan akal fikiran
dan menghidupkan Qalbu sebagai media komunikasi dengan Allah SWT.
Manusia yang mempunyai keterbatasan, penuh kehinaan
dan penuh kesilapan tidak akan mungkin bisa berhubungan, berkomunikasi dengan
Dzat Yang Maha Bersih dan Maha Tinggi yaitu Allah SWT. Karena itu Allah lewat
Rasul menurunkan Wasilah, Nur Allah, sebagai media komunikasi antara hamba
dengan Allah. Satu hal yang harus dipahami bahwa Rasul dan Nabi bukanlah
Wasilah, mereka hanya sebagai pembawa wasilah yang berasal dari Allah SWT.
Setelah Nabi wafat maka Wasilah itu dibawah oleh Ulama Pewaris Nabi yaitu Para
Ulama, Guru Mursyid dan Wali Allah untuk menuntun manusia ke jalan-Nya.
Disinilah sebenarnya letak selisih pendapat antara
pengamal tarekat dengan orang yang tidak pernah mengamalkan tarekat. Sebagian
menganggap bahwa Guru Mursyid itu adalah wasilah sehingga mereka menuduh Guru
Mursyid sebagai perantara antara hamba dengan Tuhan. Guru Mursyid meneruskan
tradisi dari Rasul yaitu membawa Wasilah dari sisi Allah untuk disampaikan
kepada seluruh ummat manusia. Orang-orang yang membawa wasilah itu bukan
ditunjuk oleh sekelompok orang, bukan dipilih oleh manusia tapi mereka adalah
pilihan Allah, orang-orang yang dikasihi oleh Allah SWT.
Kenapa Guru Mursyid begitu penting kedudukan dalam
tarekat karena memang inti sari dari Tarekat itu terletak pada Guru Mursyid.
Jadi bukan jenis tarekat yang menentukan kualitas sebuah tarekat tapi
tergantung pada kualitas dari Mursyid itu sendiri. Maka tidak semua ulama bisa
menjadi Guru Mursyid walaupun ilmu agamanya sangat luas. Menghapal Al-Qur’an
dan Hadist, paham akan hukum-hukum agama belum tentu layak untuk dijadikan
sebagai Mursyid. Guru Mursyid harus memenuhi kriteria dan syarat-syarat yang
telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yang pasti seorang Guru Mursyid
haruslah mencapai kedudukan Wali Allah.
Guru Mursyid sebagai pembawa Wasilah pada hakikatnya adalah sebagai pembawa Nur Allah (baca surat An Nur 35). Karena pembawa Nur Allah, maka dari dalam diri Mursyid akan mengalir segala ilmu rahasia dari Allah yang merupakan warisan Rasulullah SAW. Sudah sewajarnya para murid memberikan penghargaan yang tinggi kepada Guru Mursyidnya, melebihi penghargaan kepada Guru-guru biasa. Sebagai contoh sederhana Kulit kambing pun kita hargai, hormati, kita cium dengan penuh khidmat ketika menjadi sampul Al-Qur’an (ayat-ayat Allah yang tertulis), lalu bagaimana mungkin kita tidak menghargai Guru Mursyid yang merupakan sampul dari Nur Allah yang merupakan Hakikat dari Al-Qur’an.
Untuk bisa membaca Al-Qur’an, kita harus membuka
sampulnya agar seluruh isi Al-Qur’an bisa dibaca, begitu juga untuk bisa
berhubungan dengan Ayat-Ayat Allah Yang Maha Hidup berupa Nur kita juga harus
membuka sampulnya yaitu Guru Mursyid. Itulah sebabnya dikalangan Tasawuf hadap
atau sopan santun kepada Guru Mursyid sangat diutamakan melebihi Dzikir itu
sendiri karena Guru Mursyid adalah pintu yang langsung kehadirat Allah SWT.
Dengan belajar ilmu Tarekat dari Guru yang membimbing
ruhani kehadirat Allah SWT, maka setiap saat kita akan bisa merasakan
getaran-Nya, merasakan kerinduan kepada-Nya dan selalu mendengar firman-Nya
yang Maha Hidup sehingga ibadah kita lebih hidup dan bermakna, hilang was-was
dan kekhawatiran akan diterima atau tidaknya ibadah yang kita lakukan.
Ketika kita telah mencapai makrifat, mengenal Tuhan
dengan sebanarnya, maka fokus kita bukan lagi kepada diterima atau tidaknya
ibadah tapi fokus kepada bagaimana mencintai-Nya.
Demikian.
Demikian.
============================================================
SIAPAKAH WALI ALLAH ITU
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada
ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus
: 62).
Tulisan ini saya tujukan kepada orang-orang yang
ingin mencari dan bertemu dengan Kekasih Allah yang setiap zaman diturunkan
oleh Allah SWT ke dunia untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang
diridhai-Nya. Tulisan ini mudah-mudahan bisa membuka hijab orang-orang yang
selama ini mengingkari adanya Wali Allah. Siapakah Wali Allah itu? Dan
bagaimana kita bisa mengetahui kalau seseorang mempunyai derajat Wali? Berikut
pendapat para Syekh tentang Wali Allah.
Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali
Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para
pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam
hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka
seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia
mereka.
Tanda (alamat) bagi
seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk
Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain
menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan
dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di
atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi
dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu
untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah
berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya
pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan
pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada
majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk
disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia
ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan
Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta
kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap)
untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala
pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya
dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam
perjalanannya dari kebatalan menuju pada ketetapan adalah kesungguhannya
menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam
segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah, segala
kebaikan diberikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, Jamharotul
Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm.
179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam
kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu
Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat,
sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga
ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik
dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk
meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua
makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa
makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas,
“Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan
pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang
siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath
Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36).
“Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14).
“Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan
segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”
Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan
meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang
menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin
lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi,
mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk
beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak
dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama
sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.
Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan
Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari
menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat
bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan
dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita
yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar,
Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam
kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan
keindahan dan kemegahan wali-wali itu.
Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi,
bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang
tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat
kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah
memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang
diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak
memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya
menemui wajah Tuhan.
Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang
pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat
seperti hadits Rasulullah Saw :
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah
(manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’.
Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan
(pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa
gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi
Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih
sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan
karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di
atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia
merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita.
(HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada
ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus
: 62).
Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para
wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila
dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas
(terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka. Nabi
bersabda :
Ų§ِŁَّ ِŁŁŁِ Ų¶َŁَŲ§Ų¦ِŁَ Ł
ِŁْ Ų¹ِŲØَŲ§ŲÆِŁِ ŁُŲ¹ْŲ°ِŁْŁِŁ
ْ
ŁِŁ Ų±َŲْŁ
َŲŖِŁِ ŁَŁُŲْŁِŁْŁِŁ
ْ ŁِŁ Ų¹َŲ§ŁِŁَŲŖِŁِ Ų§ِŲ°َŲ§ ŲŖَŁَŲ§ŁَّŲ§ŁُŁ
ْ ŲŖَŁَŲ§ŁŲ§َّŁُŁ
ْ
Ų§ِŁَŁ Ų¬َŁَّŲŖِŁِ Ų§ُŁŁَŲ¦ِŁَ Ų§ŁَّŲ°ِŁْŁَ ŲŖَŁ
ُŲ±ُّ Ų¹َŁَŁْŁِŁ
ُ Ų§ŁْŁِŲŖَŁُ ŁَŁَŲ·ْŲ¹ِ
Ų§ŁŁَّŁْŁِ Ų§ŁْŁ
ُŲøْŁِŁ
ِ ŁَŁُŁَ Ł
ِŁْŁَŲ§ ŁِŁ Ų¹َŲ§ŁِŁَŲ©ٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang
baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang
dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang
sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya.
Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian
malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.
Jadi, seorang Wali akan mengalami hinaan dan
makian sebagaimana yang dialami oleh Para Nabi dan itu tidak akan menyurutkan
langkah mereka untuk berdakwah membesarkan Nama Tuhan. Saya jadi ingat ucapan
Guru dari Guru saya kepada Beliau ketika Beliau masih berguru. “Nanti
suatu saat nanti sejuta orang mengatakan kau masuk neraka tidak usah kau takut,
kecuali yang SATU itu”
“Cintailah yang di bumi maka yang di langit
akan mencintaimu” Semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan
Kekasih-Nya di muka bumi agar kita bisa mencintai kekasih-Nya dengan demikian
maka Allah SWT pasti mencintai kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin
===================================================================
KAKEK TUA DAN WALI ALLAH
Cerita berikut adalah cerita Tasawufan, hanya sebuah
anekdot sufi tentu saja tidak harus ditanggapi secara serius dan jika ada
hal-hal kurang berkenan dalam cerita itu jangan terlalu serius ditanggapi
anggap saja ini hanya sebuah cerita belaka.
Di sebuah Desa di daerah Sumatera tinggallah orang tua
yang telah berumur 70 tahun. Sewaktu muda dia sangat rajin beribadah, namun
ketika sudah tua mulai malas-malasan bahkan tidak pernah lagi melaksanakan
shalat juga ibadah-ibadah lain.
Suatu hari ada seorang Wali Allah datang kekampungnya
memberikan ceramah, kakek tua tadi ikut mendengarkan ceramah Wali tersebut.
Tentu saja ceramah seorang Wali Allah berisi hakikat dan ajakan untuk
memperbanyak ibadah sebagai persiapan ketika akan meninggal dunia.
Sang Wali Allah berkata,
“Hai Manusia-manusia, sadarlah bahwa umur kita ini
semakin lama semakin berkurang dan tidak ada manusia yang bisa menolak
kematian. Amal perbuatan anda akan diperhitungkan, kalau lebih banyak buruk
dari pada baik maka anda akan dimasukkan ke dalam neraka. Neraka itu sangat
panas, 7 kilometer saja jarak dari neraka maka otak anda akan mendidih. Karena
itu sadarlah, segeralah bertaubat, perbanyaklah ibadah dan carilah orang yang makbul
do’anya agar mendo’akan saudara-saudara sekalian. Do’a seorang Wali itu pasti
dimakbulkan Tuhan karena Wali Allah itu adalah kekasih Allah”.
Begitulah Wali Allah memberikan ceramah kepada warga
kampung tersebut. Mendengar ceramah Wali Allah, kakek tua siang malam
tidak bisa tidur, dia sangat takut akan siksa neraka. Kesalahan-kesalahan masa
lalu setiap saat terbanyang dan sangat mengganggu. Dia ingat akan petuah Wali
Allah bahwa bersedekah dan meminta do’a kepada Wali Allah itu adalah ibadah
tinggi dan do’a Wali sangat dimakbulkan Tuhan.
Kakek tua bukanlah seorang yang kaya, hidupnya
pas-pasan, satu-satu nya harta berharga yang dia miliki adalah seekor kambing
jantan. Dia ingin sekali memberikan kambing miliknya kepada Wali Allah akan
tetapi tempat tinggal Wali Allah itu sangat jauh dari rumahnya (lebih kurang
100 km).
Akhirnya dileher kambing itu dituliskan sebuah pesan :
KAMBING UNTUK WALI ALLAH
TOLONG YA WALI ALLAH DO’AKAN SAYA AGAR MASUK SURGA, DI
EMPERAN SURGA PUN TAK APALAH ASAL JANGAN DI NERAKA. KONON KABARNYA NERAKA ITU
PANAS SEKALI, TOLONG YA WALI ALLAH DO’AKAN SAYA.
DARI
KEKEK TUA BIN KAKEK SANGAT TUA
Kemudian kakek tua menuntun kambing dengan berjalan
kaki sejauh 8 km dan dilepas begitu saja dan kakek itu pulang kerumahnya.
Kambing itu dilihat oleh seorang anak muda dan membaca tulisan itu dan menuntun
juga sejauh 8 km. Demikianlah sambung menyambung akhirnya kambing itu sampai
kepada Wali Allah.
Wali Allah membaca tulisan di leher kambing, kemudian
Beliau mendo’akan orang tua itu agar masuk surga.
Dua bulan kemudian meninggallah orang tua itu dan
dikuburkan oleh penduduk kampung. Orang sekampung dibuat geger karena orang tua
yang tidak pernah shalat meninggalnya dalam keadaan tersenyum.
Setelah yang mengantar jenazah pulang, di dalam kubur
kakek tua didatangi oleh Malaikat Munkar Nankir. Kakek tua melihat malaikat itu
dengan heran dan dalam hati berbisik, “Rasa nya aku kenal dengan orang ini”.
Belum sempat kakek tua beramah tamah dengan kedua Malaikat, langsung Malaikat
bertanya dengan suara membentak:
“Maa Rabbuka!”
Kakek tua terkejut, tentu saja dia bingung dengan
ucapan malaikat karena dia tidak mengerti sama sekali bahasa Arab, “Jangan
lah kau bentak-bentak aku, aku tak paham dengan yang kau cakapkan itu, semuanya
sudah aku serah kepada Wali Allah”
Malaikat melanjutkan bertanya masih dengan suara
membentak,
“Wa Maa Nabiyyuka!”
Dengan kesal Kekek Tua juga menjawab dengan membentak
pula, “Kenapa kau memaksa, aku tak paham yang kau cakapkan itu, semuanya
sudah aku serahkan kepada Wali Allah!”
Malaikat tidak memperdulikan jawaban kakek tua dan
tetap melanjutkan pertanyaan dengan suara yang lebih keras
“Wa Maa Qiblatuka!”
Dengan marah kakek tua bangkit, “Tak kau hargai aku
ya, ku tinju kau nanti!” sambil mangacungkan tinjunya. Kedua malaikat
sangat ketakutan dan lari terbirit-birit dan melapor kepada Allah.
“Ya Allah, ada manusia ganjil di kuburan sana”
“Manusia ganjil bagaimana?” tanya Allah
“Setiap pertanyaan kami selalu jawabannya, sudah
diserahkan kepada Wali Allah dan ketika kami mengajukan pertanyaan ke-3 dia
marah dan kami mau di tinju nya”
“Hebat orang itu berani meninju malaikat, coba
kalian bawa buku catatan amalannya”
Malaikat membawa buku catatan kakek tua kehadapan
Allah dan ketika Allah membuka buku tersebut dengan senyum-senyum berkata, “Oh
kalau yang ini nggak usah kalian urus, ini urusan Aku, buka aja pintu surga,
masukkan dia kedalam surga”
===================================================================
===================================================================
Tarekat (dalam bahasa Arab Tariqah) merupakan
intipati pelajaran Ilmu Tasawuf. Dengannya, seseorang dapat menyucikan diri
dari segala sifat-sifat keji dan menggantikannya dengan sifat-sifat akhlaq yang
terpuji. Dalam Wikipedia disebutkan, tarekat juga merupakan batin atau inti
bagi syariat, yang dengannya seseorang dapat memahami hakikat amalan-amalan
salih dalam Islam.
Ilmu Tarekat merupakan suatu jalan khusus menuju
makrifat dan hakikat Allah SWT. Ia termasuk dalam ilmu mukasyafah dan
merupakan ilmu batin, ilmu keruhanian dan ilmu mengenal diri. Ilmu tersebut
bersumber pada Allah yang diwahyukan kepada diwahyukan kepada sekalian Nabi dan
Rasul terutama para Ulul ‘Azmi.
Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah berhulu pada
diri Nabi Muhammad saw melalui Abu Bakar as-Siddiq ra, khalifah pertama yang
juga salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Tarekat ini merupakan salah satu
tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Dalam Wikipedia disebutkan,
tarekat ini dapat dijumpai di banyak wilayah Asia Muslim, serta Turki,
Bosnia-Herzegovina, dan Dagestan, Rusia.
Konon, yang ditiru para sufi dari Abu Bakar
ash-Shiddiq adalah kesahajaannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ia pernah
hidup hanya dengan sehelai kain. Riwayat lain yang dikutip dalam http://www.baitulamin.org
menyebutkan, Abu Bakar juga pernah memegang lidahnya sendiri seraya berkata,
“Lidah inilah yang senantiasa mengancamku.” Sehingga untuk menjaga lidahnya
dari segala perkataan yang tidak bermanfaat, ia kerap mengulum batu kerikil.
Sifat lain yang juga diteladani dari sahabat Nabi
saw itu adalah kedermawanannya. Dikisahkan bahwa pada Perang Tabuk, Rasulullah
saw meminta kaum Muslimin mengorbankan hartanya. Maka datanglah Abu Bakar
membawa seluruh harta yang dipunyanya.
Diletakkannya harta itu di antara kedua tangan
Rasulullah yang kemudian bertanya, “Apa lagi yang kau tinggalkan bagi
anak-anakmu, wahai Abu Bakar?” Sang sahabat menjawab, “Saya tinggalkan bagi
mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Kedermawanan Abu Bakar tersebut mengandung nilai
kerelaan berkorban di jalan Allah, serta menyandarkan diri hanya kepada Allah
dan Rasul-Nya. Sikap kepasrahan yang tinggi itulah yang oleh para sufi
dijadikan panutan. Sifat Abu Bakar itu dianggap sebagai benih akhlak para sufi
kemudian.
Menurut Syeikh Najmuddin Amin Al-Kurdi dalam
kitabnya Tanwirul Qulub, nama Tareqat Naqshbandiyah berbeda-beda
menurut zaman. Dalam silsilah sufisme ini, Abu Bakar as-Siddiq berada di urutan
pertama. Pada periode antara Abu Bakar dan Tayfur ibn Isa ibn Surusyan
al-Bistami (Syekh Abu Yazid al-Bistami), yang berada di silsilah kelima,
tarekat ini dikenal dengan nama Shiddiqiyah.
Selanjutnya, pada periode yang dimulai sejak
Syekh Tayfur hingga sufi pada silsilah kesembilan, Syekh Abdul Khalik Fajduani,
tarekat ini dikenal dengan Tayfuriyah. Periode selanjutnya yang berlangsung
hingga masa Syekh Bahauddin Naqsyabandi Bukhari yang berada di silsilah
kelimabelas, tarekat lebih dikenal sebagai Khawajakaniah. Terakhir, tarekat
dikenal dengan nama Naqsyabandiyah hingga pada silsilah ke-18, Syekh
Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar.
Syekh Bahauddin Naqsyabandi Bukhari itulah yang
kemudian dikenal sebagai pendiri tarekat Naqsyabandi. Ulama yang dilahirkan
pada Muharram 717 Hijriah (1317 Masehi) di sebuah perkampungan bernama Qashrul
‘Arifan dekat Bukhara itu menerima pendidikan awal tarekat dari gurunya, Sayyid
Muhammad Baba as-Sammasi. Selanjutnya, ia menerima ilmu-ilmu tarekat dan
khilafat dari syekhnya, Sayyid Amir Kullal.
Dikisahkan, suatu hari Naqsyabandi berkata, “Pada
suatu hari aku dan sahabatku sedang ber-muraqabah, lalu pintu langit
terbuka dan gambaran musyahadah hadir kepadaku. Lalu aku mendengar satu suara
berkata, ‘Tidakkah cukup bagimu untuk meninggalkan mereka yang lain dan hadir
ke hadirat Kami secara berseorangan?” Dari situ ia lalu menerima petunjuk
mengenai tarekat yang kemudian dikenal sebagai Tarekat Naqsyabandiyah.
Selain diambil dari nama salah seorang sufi yang
juga pendiri tarekat, Naqsyabandiyah menurut Wikipedia diadopsi dari bahasa
Arab, yakni murokkab bina’i dari dua kata Naqsy dan Band
yang berarti “suatu ukiran yang terpateri.” Sebagian orang menerjemahkannya
sebagai “pembuat gambar,” pembuat hiasan,” “jalan rantai,” dan “rantai emas.”
Meski kemudian nama “Naqsyabandiyah” diambil
menjadi nama tarekat, periode-periode setelah Bahauddin Naqsyabandi Bukhari
menamai tarekat ini dengan nama yang berbeda-beda. Periode yang dimulai dari
Syekh Ubaidullah Al-Ahrar hingga silsilah ke-23, Syekh Ahmad Faruqi Sirhindi,
menamai tarekat ini “Ahrariah.” Sedangkan periode Syekh Sirhindi hingga
silsilah ke-29, Syekh Dhiyauddin Khalid Kurdi Al Usmani, menamainya
“Mujaddidiyah.” Lalu, periode antara Syekh Khalid Kurdi hingga sekarang,
dinamakan “Khalidiyah” atau kemudian dikenal dengan Tarekat Naqsyabandiyah
al-Khalidiyah.
Dengan demikian, tarekat yang bermula di Bukhara
ini kemudian dikenal sebagai Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah di Timur
Tengah, terutama di Makkah. Tarekat tersebut kemudian tersebar ke berbagai
wilayah dunia melalui jamaah haji.
Setelah itu, tarekat ini tidak lagi mengalami
perubahan nama. Para pengamal tasawuf di masa berikutnya memusatkan perhatian
mereka pada ilmu yang diajarkan dan sumber ilmu yang ditunjukkan dengan untaian
silsilah keguruan, bukan pada nama berdasarkan silsilah. Setelah Syekh Khalid
Kurdi, silsilah keguruan berikutnya berturut-turut adalah Syekh Abdullah
Afandi, Syekh Sulaiman Qarimi, dan Syekh Sulaiman Zuhdi.
===================================================================
Oleh karena itu jelaslah bahwa ilmu tarekat sangatlah penting karena pengaruh zikrullah terhadap pribadi mukmin makin kuat, sehingga membawa pengaruh positif dalam hidup dan kehidupan pribadi yang luhur.
===================================================================
Dzikir dalam 7 Latifah Tarekat Naksabandiyah
Suatu zikir hanyalah untuk menyelamatkan hati dari nafsu keduniawian dan
nafsu keinginan, nafsu itu menarik kejelekan, maka tidak ada yang selamat dari
nafsu, kecuali bergantung pasrah kepada Allah SWT.
Aktifitas
wirid/zikir yang terus menerus akan menjadi warid yaitu timbul cahaya
ke-ilahy-an yang masuk kedalam hati yang akan membedakan hak dan batil.
Oleh karena itu jelaslah bahwa ilmu tarekat sangatlah penting karena pengaruh zikrullah terhadap pribadi mukmin makin kuat, sehingga membawa pengaruh positif dalam hidup dan kehidupan pribadi yang luhur.
Pelaksanaan
zikir Naksabandiyah sebagai berikut :
1. LATIFAH
QOLBU
Latifah yang berarti duduknya di
Latifatul qolby, adanya dibawah susu sebelah kiri jarang dua jari condongnya kedalam.Dalam pengisian zikir……..arahnya kedalam
dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya, maka tetaplah di Latifatul
qolby.
Wilayahnya nabi Adam, tempatnya nafsu Lawwamah, bersifat
> suka mencela, menuruti hawa nafsu, bohong, menganiaya, bangga diri,
menggunjing, pamer, bangga diri,
Warnanya : kuning
2. LATIFAH RUH
Latifah yang berarti duduknya di
Latifatul Ruh, adanya dibawah susu sebelah kanan jarang dua jari condongnya
keluar kedalam. Dalam pengisian zikir…..arahnya keluar kedalam dan harus diisi
dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Ruh. Dari Latifatul qolby ke Latifatul Ruh ada perjalanan zikir sebanyak 1000
kali dan setelah mengerjakan zikir perjalanan tetaplah di Latifatul Ruh. Wilayahnya nabi Ibrahim dan nabi Nuh.
Tempatnya nafsu Mulhimah, bersifat > lapang dada, dermawan, merendah, sabar,
taubat, qonaah, tahan menghadapi kesusahan.
Warnanya : merah
3. LATIFAH SIR/SIRRI
Latifah yang berarti duduknya di
Latifatul Sir, adanya di atas susu sebelah kiri
jarang dua jari condongnya keluar. Dalam pengisian zikir ….arahnya keluar dan
harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Sir. Dari Latifatul
Ruh ke Latifatul Sir ada perjalanan zikir 1000 kali. Bilamana dalam pengisian
Latifah Qolby 5000 kali, maka Ruh harus juga diisi 5000 kali. Setelah
mengerjakan perjalanan zikir dari Ruh ke Sir maka tetaplah berada di Latifatul
Sir. Wilayahnya nabi Musa, tempatnya
nafsu Mutmainah, bersifat > senang ibadah, bersyukur, ridho, tawakal, sayang
dengan sesama makhluk, takut melanggar larangan Allah/Waro.
Warnanya : Putih
4. LATIFAH KHOFI
Latifah yang berarti duduknya di
Latifatul Khofi, adanya di atas susu sebelah kanan jarang dua jari condongnya
kedalam. Dalam pengisian zikir ….arahnya kedalam dan harus diisi dengan zikir
sebanyak-banyaknya di Latifatul Khofi. Dari Latifatul Sir ke Latifatul
Khofi ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian
Latifah qolby 5000 kali dan Sir juga harus 5000 kali. Setelah mengerjakan
perjalanan zikir dari Sir ke Khofi maka tetaplah di Latifatul Khofi.
Wilayahnya nabi Isa, tempatnya nafsu
Mardiyah, bersifat > baik budi, welas asih, menjalankan kebaikan, tahu diri,
sayang sesama makhluk.
Warnanya : Hitam
5. LATIFAH AHFA/AKFA
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul
Akfa, adanya di tengah-tengah dada condongnya keatas kedepan. Dalam pengisian
zikir …..arahnya keatas kedepan dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya
di Latifatul Akfa. Dari Latifatul Khofi ke Latifatul Akfa ada perjalanan zikir
sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifatul Qolby, Ruh, Sir dan
Khofi harus sama diisi 5000 kali. Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari
Khofi ke akfa maka tetaplah di Latifatul Akfa.
Wilayahnya nabi Muhammad
SAW, tempatnya nafsu
Kamilah, bersifat > ilmu yakin, ainul yakin, haqqul yakin, Warnanya : Hijau
6.LATIFAH NAPSI
Latifah yang berarti duduknya di
Latifatul Napsi, adanya di tengah diantara dua alis condongnya kebawah kebelakang.
Dalam pengisian zikir…. arahnya kebawah kebelakang dan harus diisi dengan zikir
sebanyak-banyaknya di Latifatul Napsi. Dari Latifatul Akfa ke Latifatul Napsi
ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifatul
qolby, Ruh, Sir, Khofi sama, maka di Latifatul Akfa juga harus sama ( misalnya
5000 kali ). Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Latifatul Akfa ke
Latifatul Napsi maka tetaplah duduk di Latifatul Napsi. Tempatnya nafsu Amarah, bersifat > serakah, takabur,
khianat, pelit, syahwat. Warnanya : merah, kuning, hijau,
biru. ( dominan merah )
7. LATIFAH QOLAB/QOLAM
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul
qolam adanya di tengah embun-embunan condong kedalam (seluruh badan). Dalam
pengisian zikir …..arahnya kedalam ditengah-tengah dada. Dari Latifatul Napsi
ke Latifatul Qolam, ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam
pengisian Latifatul Qolby, Ruh, Sir, Khofi, Akfa sama, maka di Latifatul Napsi
juga harus sama 5000 kali. Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Latifatul
Napsi ke Latifatul Qolam maka Latifatul Qolam harus diisi sebanyak 5000 kali.
Kemudian dinaikan ke Hadiyat>Kulhu Allah hu ahad…. Ma’iyat>Wahuwa ma’akum
aena ma kuntum…..Akrobiyah>Wahuwa Akrobu minha, minha fi warid.
Setelah mengisi zikir di Latifatul
Qolam maka kembali ke Latifatul Qolby dengan perjalanan zikir sebanyak 1000
kali, maka tetaplah zikir untuk seterusnya di Latifatul Qolby yang berarti
langsung tenggelam/fana, isilah zikir sebanyak-banyaknya sebagai tanggung jawab
diri sendiri. Tempatnya nafsu Kamilah, bersifat>
Tajjali, laduni, irsad, ikmal, baqobillah.
Warnanya : merah, kuning, hijau, biru
( pelangi )
Zikir latifatul jasad / Qolam caranya
sebagai berikut, masukan zikir Hu Allah lewat napas, tarik ke lubang hidung
sebelah kiri dimasukan ke pangkal jantung diisi zikir Allah 5000 kali. Dari
jantung disebarkan lewat urat ashabat ke semua denyut nadi, artinya jantung dan
nadi menjadi satu disebarkan ke seluruh tubuh/Latifatul jasad dan mengisi
rongga-rongga tubuh dengan zikir sehingga seluruh tubuh berzikir
Untuk menyebarkan zikir keluar
masuknya napas di jantung, harus belajar cara memberhentikan dan melancarkan
jantung, adalah sebagai berikut :
1.Untuk
memberhentikan jantung adalah buang napasnya yang panjang……. tarik napasnya
sedikit.
2.Untuk
melancarkan jantung adalah buang napasnya sedikit……tarik napasnya yang
panjang.
Sebagai catatan >Jantung ada dua bagian
:
1.Pangkal Jantung ada 101 urat
ashabat adalah rupa kerajaan ilahy. 2.Ujung Jantung, kerajaan iblis/darah
kotor yang harus dibersihkan/dihancurkan.
wassalam,
Semoga Allah SWT selalu menyertai kita. Amin.








0 komentar:
Posting Komentar